Siang ini bunga sibuk bekerja, kebetulan dia harus keluar dari kantornya karena harus memfoto copy sebuah form isian data untuk diperbanyak. Siang yang panas, berdebu dan sesak Bunga terus melangkah tergesa-gesa ke tempat foto copi karena ingin segera membereskan pekerjaannya.
Ditengah jalan Bunga berpapasan dengan seorang kakek tua lusuh yang sedang bersender atau tepatnya memeluk erat sebuah tiang di pinggir jalan.
“Oh, kasian betapa lemahnya kakek pengemis itu”, pikir Bunga sesaat tapi… ia tidak sempat menghentikan langkah kecilnya hanya untuk sekedar menolong sang kakek.
“Pekerjaan ini harus beres”, hanya itu yang ada dalam pikirannya. Akhirnya dia sampai di tempat foto copi dan menunggu ratusan lembar formnya digandakan, setelah selesai kaki kecilnya kembali melangkah cepat agar bisa segera kembali ke kantor.
“Aki…Aki …sini dibantuin atuh”, (*aki = kakek, penulis ) lamunan Bunga buyar oleh suara seorang ibu dibelakangnya khas dengan logat sunda.
Terlihat dengan penuh semangat sang kakek berjalan mendorong gerobak yang penuh dengan kardus menyusul langkah cepat Bunga.
“Haaa???”Bunga tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Dia sangat yakin kakek ini adalah kakek tua yang sebelumnya dia lihat sedang memeluk erat tiang dengan tangannya yang lemah tapi ….sekarang Bunga melihat sang kakek berjalan cepat sambil mendorong gerobak tuanya dan menghiraukan orang-orang sekitarnya yang hendak menolongnya.
Bunga merasa malu dengan hal ini, kakek ini terlihat tidak mengeluh dengan beban yang didorongnya malahan bantuan yang datang pun tidak ia hiraukan, ia begitu pd dengan kemampuannya sendiri. Bunga benar-benar malu pada dirinya yang terlalu sering mengeluh dan jarang sekali bersyukur dengan anugrah yang diberi.
write by olga
