Seringkali kita menemukan fakta bahwa seseorang yang dari segi finansial memiliki kemampuan yang terbatas, namun di luar dugaan ia mampu menyesaikan masalah yang dihadapinya. Sebagai contoh seorang buruh yang bekerja dengan penghasilan setingkat upah minimum, mampu menafkahi seorang isteri dan dua orang anaknya. Demikian juga dengan seorang bapak yang tidak bekerja tetap, namun ada saja penghasilan yang diperoleh untuk menghidupi isteri dan anaknya. Secara kualitatif tingkat kehidupan mereka memang kurang memadai, seperti makan hanya satu atau dua kali, makan berlaukkan sambal dan tempe/tahu goreng, pakaian ala kadarnya, dan lain-lain. Gaya hidup yang dijalani pun sebanding dengan penghasilan yang diperolehnya itu. Namun yang layak dikagumi, mereka merasa nyaman, merasa cukup, dan bahagia dalam menjalani hidupnya.
Hal ini bertolak belakang dengan mereka yang memiliki keinginan yang bermacam-macam. Dengan penghasilan memadai pun, tidaklah bakal sanggup memenuhi keinginan manusia itu, terlebih bagi yang memiliki penghasilan ala kadarnya.Orang-orang demikian biasanya selalu diliputi kecemasan dan ketidaktenangan. Ini sudah menjadi sunatullah, bahwa barang siapa yang hidupnya terpaku dengan keinginan hawa nafsunya maka pasti ia tidak akan pernah puas dengan keinginan hawa nafsunya itu. Nabi bersabda, andaikan dua bukit Uhud itu dijadikan emas, pasti manusia masih menginginkan bukit yang lain untuk dijadikan emas. Demikianlah gambaran hawa nafsu manusia yang tidak akan pernah terpuaskan.
Belajar dari dua contoh sikap manusia diatas, hendaknya kita tidak terlalu memusingkan dengan keinginan hawa nafsu yang kadang melintas di benak pikiran dan memenuhi rongga-rongga hati kita. Jika kita memaksakan diri untuk mengejar keinginan itu, justru kadang ia makin menjauh. Sikap yang terbaik adalah bertawakkal kepada Allah, yaitu berfokus pada ikhtiar dan bekerja semaksimal mungkin, dan menerima hasilnya dengan penuh lapang dada dan ridha kepada-Nya. Insya Allah, rasa kecukupan itu akan Allah berikan kepada kita.
Alangkah baiknya jika kita membenamkan dengan kuat firman Allah berikut ini —yang mana orang sering melupakannya, sebagai pedoman dalam kehidupan kita. Allah berfirman, “Dan barang siapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya.” (QS 65:3).
Jagalah jarak dengan keinginan-keinginan yang meletup-letup di dalam dada. Dengan tawakkal, Insya Allah, keinginan-keinginan itu dengan sendirinya akan mendekat kepada kita. Wallahua’lam bishshawaab.
